cara memproduksi bibit stroberi bebas penyakit dengan kultur meristem
Stroberi merupakan tanaman yang cukup populer di Indonesia dan dunia.
Dari tahun ke tahun, permintaan buah stroberi di Indonesia terus
meningkat. Hal ini mengakibatkan terjadinya perluasan areal penanaman
dan peningkatan permintaan bibit stroberi.
Seperti halnya tanaman jeruk, stroberi juga rentan terinveksi virus.
Penyakit yang diakibatkan oleh virus merupakan faktor utama yang
menyebabkan penurunan hasil panen hingga mencapai 80% (Thompson and
Jeikman,2003). Penyakit tersebut antara lain: Strawberry Mottle Virus
(SMoV) yang menyebabkan penurunan produksi hingga 30% (Thompson and
Jeikman,2003), Strawberry Mild Yellow Edge Virus (SMYEV), Strawberry
Crinkle Virus (SCV) dan Strawberry Ven Binding Virus (SVBV) yang
menyebabkan penurunan produksi hingga 80% (Horn and Carver, 1962; Mellor
and Krezal, 1987).
Sistem penyediaan bibit stroberi secara vegetatif yaitu dengan stolon
maupun anakan masih berpotensi menularkan penyakit yang diakibatkan
oleh virus ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, penyediaan bibit
stroberi bebas penyakit merupakan kunci keberhasilan produksi stroberi.
Kultur meristem merupakan teknik yang unik untuk membebaskan bibit
stroberi dari virus, mikoplasma, bakteri dan jamur (Morel and Martin,
1955; Pierik, 1989).
Langkah-langkah pembuatan bibit stroberi bebas penyakit:
1. Pemilihan eksplan
Eksplan yang digunakan adalah stolon yang sehat, tegar dan merupakan
stolon pertama atau kedua. Pemilihan eksplan ini berpengaruh terhadap
persentase hidup meristem.
2. Sterilisasi eksplan
Mula-mula eksplan dicuci dengan sabun cair dan dibiarkan dalam air
mengalir selama 1 jam. Eksplan kemudian disterilisasi dengan menggunakan
sodium hipoklorit 5 % selama 15 menit dan 15 % selama 5 menit, dan
dibilas dengan aquades steril 3 kali. Proses sterilisasi dilakukan dalam
Laminar Air Flow.
3. Penanaman meristem
Meristem dipotong dengan menggunakan skapel di bawah mikroskop dengan
perbesaran 40 kali. Meristem yang digunakan terdiri atas apical dome
dan disertai 2 – 3 daun primordial. Meristem kemudian ditanam pada media
MS + 0,8 % agar + 1 g/l arang aktif selama 1 – 2 bulan.
4. Perbanyakan secara in vitro
Meristem yang telah tumbuh kemudian dipindah ke media proliferasi
(media MS + 0,8 % agar + 4,4 mM BA). Subkultur dilakukan setiap 45 hari.
Tanaman yang telah besar dan berakar bisa langsung diaklimatisasi,
sedangkan tanaman yang masih kecil harus tetap disubkultur.
5. Aklimatisasi
Tanaman yang telah besar dan mempunyai akar yang cukup banyak
diaklimatisasi pada media pasir yang telah disterilkan. Pada awal proses
aklimatisasi, tanaman disungkup terlebih dahulu selama 2 minggu.
Setelah tanaman dapat beradapatasi dengan lingkungan dan tumbuh dengan
baik, tanaman dipindah ke polybag agar pertumbuhannya lebih optimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar